Minggu, 05 Agustus 2012

usahatani kangkung


I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Komoditas pertanian (tanaman pangan, hortikultura dan peternakan) merupakan komoditas yang sangat prospektif untuk dikembangkan mengingat potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, ketersediaan teknologi serta potensi serapan pasar di dalam negeri dan pasar internasional yang terus meningkat. Salah satu komoditas pertanian dari produk horyikultura yang tergolong jenis sayur mayur yang populer adalah kankung, karena banyak peminatnya, Kangkung termasuk suku Convolvulaceae (keluarga kangkung-kangkungan). Kangkung banyak terdapat di kawasan Asia dan merupakan tumbuhan yang dapat dijumpai hampir di mana-mana terutama di kawasan berair.
Kemajuan teknologi dalam bidang pertanian sebagai dampak dari revolusi industri, revolusi kimia dan revolusi hijau, mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara global, namun juga membawa dampak negatif. Penggunaan sarana produksi pertanian yang tak terbarukan (not renewable) seperti pupuk buatan dan pestisida secara terus menerus pada sistem pertanian konvensional dan dengan takaran yang berlebihan, menyebabkan antara lain yaitu Pencemaran air tanah dan air permukaan oleh bahan kimia pertanian, membahayakan kesehatan manusia dan hewan, menurunkan keanekaragaman hayati, meningkatkan resistensi organisme pengganggu, dan menurunkan produktivitas lahan karena erosi dan pemadatan tanah.
Kesadaran tentang terjadinya berbagai dampak negatif tersebut meninbulkan reaksi di berbagai tempat dan kelompok masyarakat, antara lain dengan dikembangkannya berbagai sistem pertanian yang berorientasi “kembali ke alam”. Salah satu sistem tersebut adalah yang disebut Pertanian Organik (Organic Farming).
Pada dasarnya berbudidaya sayuran organik bisa dilakukan dimana saja asalkan tanahnya subur. Sayuran seperti bayam, sawi, katuk, pak choy, caisim, selada, kangkung dan kemangi adalah sayuran paling menguntungkan jika dibudidaya. Menariknya lagi, budidaya sayuran pun bisa dilakukan dilahan sempit seperti pekarangan yang berukuran tidak begitu luas. Namun jika untuk skala usaha lahan seluas 1 hektar masih kategori sempit.
Manfaat kangkung yang cukup besar untuk menjadi anti toksin dalam tubuh dan makanan sehari-hari dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan pemilihan budidaya kangkung. Selain itu kangkung juga bermanfaat sebagai sayur mayur yang juga merupakan sumber vitamin. Bahkan kemudahan dalam penanamannya bisa mempermudah budidaya kangkung darat. Hal ini akan meningkatkan profit pendapatan agrobisnis nasional. Dengan adanya kebutuhan akan kangkung yang tinggi, maka dibutuhkan penjelasan akan penanaman varietas kangkung terutama kangkung darat (Ipomea reptans).
I.2        Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas, tujuan dari penyusunan laporan akhir ini diantaranya adalah:
  1. Untuk menjelaskan tentang pengertian usahatani dan pertanian organik
  2. Untuk mengetahui gambaran umum dari kegiatan budidaya kangkung organik
  3. Untuk mengetahui akan gambaran umum dari pemasaran kangkung
  4. Untuk menengetahui akan hasil perhitungan pendapatan
  5. Untuk menengetahui akan kelayakan usaha
  6. Untuk mendeskripsikan permasalahan dan solusi pada budidaya kangkung organik

















 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Usahatani
            Definisi Usahatani Dalam Lingkup Ilmu Usahatani:
a.       Menurut Mosher (1968), usahatani adalah:  suatu tempat atau sebagian dari permukaan bumi di mana pertanian diselenggarakan seorang petani tertentu, apakah ia seorang pemilik, penyakap atau manajer yang  digaji himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat pada tempat itu yang  diperlukan untuk produksi pertanian seperti tanah dan air, perbaikan- perbaikan yang  dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan-bangunan yang didirikan di atas  tanah itu dan sebagainya.
b.       Prof. Bachtiar Rivai (1980), mendefinisikan usahatani sebagai oragnisasi dari alam,kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi  di lapangan pertanian. Oragnisasi ini ketatalaksanaanya tidak berdiri sendiri dan sengaja diusahakan oleh seorang atau sekumpulan orang, segolongan social, baik yang terikat genologis, politis, maupun territorial sebagai pengelolanya. Istilah usahatani ditulis dengan satu kata usahatani  bukan dalam dua kata usaha tani.  
c.       Menurut Adiwilaga (1982), ilmu usahatani adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan orang melakukan pertanian dan permasalahan yang ditinjau secara khusus dari kedudukan pengusahanya sendiri atau Ilmu usahatani yaitu menyelidiki cara-cara seorang petani sebagai pengusaha dalam menyusun, mengatur dan menjalankan perusahaan itu.
d.      Menurut Kadarsan (1993), usahatani adalah suatu tempat dimana seseorang atau sekumpulan orang berusaha mengelola unsur-unsur produksi seperti alam, tenaga kerja, modal dan ketrampilan dengan tujuan berproduksi untuk menghasilkan sesuatu di lapangan pertanian.
e.       Menurut soekartawi (1995), ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seorang petani mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk memperleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. sehingga uasahatani adalah himpunan dari sumber – sumber yang terdapat pada tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tanah dan air, perbaikan – perbaiakan yang dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan – bangunan yang didirikan di atas tanah itu ada sebagainya.
Dari beberapa uraian dari istilah usahatani dapat disimpulkan bahwa Ilmu usahatani adalah ilmu terapan yang membahas atau mempelajari bagaimana menggunakan sumberdaya secara efisien dan efektif pada suatu usaha pertanian agar diperoleh hasil maksimal. Sumber daya itu adalah lahan, tenaga kerja, modal dan manajemen.

Text Box: Ilmu Teknik PertanianRounded Rectangle: Ilmu  usahatani
Text Box: Ilmu Sosial dan Ekonomi
                                                                                              

 



Text Box: Ilmu Sosiologi
                                                                           

 















Gambar 2.1 Hubungan Ilmu Usahatani Dengan Ilmu yang Lainnya
Dalam ananalisis ilmiah konvensional, usahatani dibagai dalam berbagai macam disiplin dab dipandang dengan sudut profesional dan ahli agronomi, nutrisi, ternak, ekonomi sosial, dan lain – lain. Sebaliknya, justru petani memiliki bidang keahlian khusus, mereka mengnggap usahatani sebagai suatu keseluruhan, jika kita inigin memahami bagaimana usahatani berfungsi dan bagaimana keputusan usahatani dimabil, haruslah usahatani dilihat sebagai suatu sistem. Usahatani bukan sekedar kumpulan tanaman, hewan, peralatan tenaga kerja, namun suatu jalianan yang kompleks dengan pengaruh – pengaruh lungkungan dan input – input yang harus dikelola petani sesuai dengan kemampuannya.
Ilmu usahatani adalah upaya penelaahan tritunggal yaitu manusia ( petani), lahan, dan tanaman atau hewan. Maka ilmu ini menyangkut aspek manusia ( sosial), lahan (kimia,fisika) serta tanaman atau hewan (aspek budidaya). Menurut Timmer (1947) mengatakan bahwa ilmu ushatani itu merupakan penghubung antara ilu teknik pertanian dengan sosial ekonomi pertanian .

2.2.  Tinjauan Pertanian Organik
Pertanian organik tidak sebatas hanya meniadakan penggunaan asupan eksternal sintetis, tetapi juga pemanfaatan sumber-sumber alam secara berkelanjutan, produksi makanan sehat dan menghemat energi. Aspek ekonomi dapat berkelanjutan bila produksi pertaniannya mampu mencukupi kebutuhan dan memberikan pendapatan yang cukup untuk melaksanaan keberlanjutan penghidupan.
Budidaya pertanian organik mengintikan pada keselarasan alam, melalui keragaman hayati dan pengoptimalan penggunaan asupan alami yang berada di sekitar melalui proses daur ulang bahan-bahan alami. Dalam proses budidayanya, dari persiapan lahan hingga pemanenan tidak dapat dilepaskan dengan interaksi kedua hal tersebut. Peralihan ke pertanian organis memerlukan pola pikir yang baru pula. Seluruh anggota keluarga yang terlibat dalam pengelolaan lahan harus siap dalam melakukan perubahan-perubahan dalam banyak aspek. Yang pertama dan terpenting adalah cara pandang petani itu sendiri terhadap pertanian organik.
Suatu penggunaan faktor produksi dikatakan efisien secara teknis (efisiensi teknis) kalau faktor produksi yang dipakai menghasilkan produksi maksimum. Dikatakan efisiensi harga atau efisiensi alokatif kalau nilai dari produk marginal sama dengan harga faktor produksi yang bersangkutan dan dikatakan efisiensi ekonomi kalau usaha pertanian tersebut mencapai efisiensi teknis dan sekaligus juga mencapai efisiensi harga (Soekartawi, 2001).
Pertanian organik tidak sebatas hanya meniadakan penggunaan asupan eksternal sintetis, tetapi juga pemanfaatan sumber-sumber alam secara berkelanjutan, produksi makanan sehat dan menghemat energi. Aspek ekonomi dapat berkelanjutan bila produksi pertaniannya mampu mencukupi kebutuhan dan memberikan pendapatan yang cukup untuk melaksanaan keberlanjutan penghidupan.
Budidaya pertanian organik mengintikan pada keselarasan alam, melalui keragaman hayati dan pengoptimalan penggunaan asupan alami yang berada di sekitar melalui proses daur ulang bahan-bahan alami. Dalam proses budidayanya, dari persiapan lahan hingga pemanenan tidak dapat dilepaskan dengan interaksi kedua hal tersebut. Peralihan ke pertanian organis memerlukan pola pikir yang baru pula. Seluruh anggota keluarga yang terlibat dalam pengelolaan lahan harus siap dalam melakukan perubahan-perubahan dalam banyak aspek. Yang pertama dan terpenting adalah cara pandang petani itu sendiri terhadap pertanian organik.
Suatu penggunaan faktor produksi dikatakan efisien secara teknis (efisiensi teknis) kalau faktor produksi yang dipakai menghasilkan produksi maksimum. Dikatakan efisiensi harga atau efisiensi alokatif kalau nilai dari produk marginal sama dengan harga faktor produksi yang bersangkutan dan dikatakan efisiensi ekonomi kalau usaha pertanian tersebut mencapai efisiensi teknis dan sekaligus juga mencapai efisiensi harga (Soekartawi, 2001).
1.      Faktor – faktor Produksi yang Digunakan
Faktor produksi adalah semua korbanan yang diberikan pada tanaman agar tanaman tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Faktor produksi dikenal pula dengan istilah input dan korbanan produksi. Faktor produksi memang sangat menentukan besar-kecilnya produksi yang diperoleh. Sedangkan faktor – faktor produksi dibagi menjadi empat yaitu:
a.       Faktor produksi lahan
Tanah sebagai salah satu faktor produksi merupakan pabrik hasil-hasil pertanian yaitu tempat dimana produksi berjalan dan darimana hasil produksi ke luar. Faktor produksi tanah mempunyai kedudukan paling penting. Hal ini terbukti dari besarnya balas jasa yang diterima oleh tanah dibandingkan faktor-faktor produksi lainnya (Mubyarto, 1995).Potensi ekonomi lahan pertanian organik dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang berperan dalam perubahan biaya dan pendapatan ekonomi lahan. Setiap lahan memiliki potensi ekonomi bervariasi (kondisi produksi dan pemasaran), karena lahan pertanian memiliki karakteristik berbeda yang disesuaikan dengan kondisi lahan tersebut.
Maka faktor-faktornya bervariasi dari satu lahan ke lahan yang lain dan dari satu negara ke negara yang lain. Secara umum, semakin banyak perubahan dan adopsi yang diperlukan dalam lahan pertanian, semakin tinggi pula resiko ekonomi yang ditanggung untuk perubahan-perubahan tersebut. Kemampuan ekonomi suatu lahan dapat diukur dari keuntungan yang didapat oleh petani dalam bentuk pendapatannya. Keuntungan ini bergantung pada kondisi-kondisi produksi dan pemasaran. Keuntungan merupakan selisih antara biaya (costs) dan hasil (returns).
b.      Faktor Modal ( Sarana Produksi)
Dalam kegiatan proses produksi pertanian organik, maka modal dibedakan menjadi dua macam yaitu modal tetap dan tidak tetap. Perbedaan tersebut disebabkan karena ciri yang dimiliki oleh model tersebut. Faktor produksi seperti tanah, bangunan, dan mesin-mesin sering dimasukkan dalam kategori modal tetap. Dengan demikian modal tetap didefinisikan sebagai biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi yang tidak habis dalam sekali proses produksi tersebut. Peristiwa ini terjadi dalam waktu yang relative pendek dan tidak berlaku untuk jangka panjang (Soekartawi, 2003).
Sebaliknya dengan modal tidak tetap atau modal variabel adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi dan habis dalam satu kali dalam proses produksi tersebut, misalnya biaya produksi yang dikeluarkan untuk membeli benih, pupuk, obat-obatan, atau yang dibayarkan untuk pembayaran tenaga kerja.
Besar kecilnya modal dalam usaha pertanian tergantung dari :
1)      Skala usaha, besar kecilnya skala usaha sangat menentukan besar-kecilnya modal yang dipakai makin besar skala usaha makin besar pula modal yang dipakai.
2)      Macam komoditas, komoditas tertentu dalam proses produksi pertanian juga menentukan besar-kecilnya modal yang dipakai.
3)      Tersedianya kredit sangat menentukan keberhasilan suatu usahatani (Soekartawi,2003).
c.       Faktor Tenaga Kerja
Faktor produksi tenaga kerja, merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi dalam jumlah yang cukup bukan saja dilihat dari tersedianya tenaga kerja tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja perlu pula diperhatikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada faktor produksi tenaga kerja adalah :
1)      Tersedianya tenaga kerja
Setiap proses produksi diperlukan tenaga kerja yang cukup memadai. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan perlu disesuaikan dengan kebutuhan sampai tingkat tertentu sehingga jumlahnya optimal. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan ini memang masih banyak dipengaruhi dan dikaitkan dengan kualitas tenaga kerja, jenis kelamin, musim dan upah tenaga kerja.
2)      Kualitas tenaga kerja
Dalam proses produksi, apakah itu proses produksi barang-barang pertanian atau bukan, selalu diperlukan spesialisasi. Persediaan tenaga kerja spesialisasi ini diperlukan sejumlah tenaga kerja yang mempunyai spesialisasi pekerjaan tertentu, dan ini tersedianya adalah dalam jumlah yang terbatas. Bila masalah kualitas tenaga kerja ini tidak diperhatikan, maka akan terjadi kemacetan dalam proses produksi. Sering dijumpai alat-alat teknologi canggih tidak dioperasikan karena belum tersedianya tenaga kerja yang mempunyai klasifikasi untuk mengoperasikan alat tersebut.
3)      Jenis kelamin
Kualitas tenaga kerja juga dipengaruhi oleh jenis kelamin, apalagi dalam proses produksi pertanian. Tenaga kerja pria mempunyai spesialisasi dalam bidang pekerjaan tertentu seperti mengolah tanah, dan tenaga kerja wanita mengerjakan tanam.
4)      Tenaga kerja musiman
Pertanian ditentukan oleh musim, maka terjadilah penyediaan tenaga kerja musiman dan pengangguran tenaga kerja musiman. Bila terjadi pengangguran semacam ini, maka konsekuensinya juga terjadi migrasi atau urbanisasi musiman (Soekartawi, 2003).
Dalam usahatani sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri. Tenaga kerja keluarga ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara keseluruhan dan tidak perlu dinilai dengan uang tetapi terkadang juga membutuhkan tenaga kerja tambahan misalnya dalam penggarapan tanah baik dalam bentuk pekerjaan ternak maupun tenaga kerja langsung sehingga besar kecilnya upah tenaga kerja ditentukan oleh jenis kelamin. Upah tenaga kerja pria umumnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan upah tenaga kerja wanita. Upah tenaga kerja ternak umumnya lebih tinggi daripada upah tenaga kerja manusia ( Mubyarto, 1995).
d.      Faktor Menejemen
Manajemen terdiri dari merencanakan, mengorganisasikan dan melaksanakan serta mengevalusi suatu proses produksi. Karena proses produksi ini melibatkan sejumlah orang (tenaga kerja) dari berbagai tingkatan, maka manajemen berarti pula bagaimana mengelola orang-orang tersebut dalam tingkatan atau dalam tahapan proses produksi (Soekartawi, 2003).
Faktor manajemen dipengaruhi oleh:
1)      tingkat pendidikan
2)      Pengalaman berusahatani
3)      Skala usaha.
4)      Besar kecilnya kredit
5)      Macam komoditas.
Menurut Entang dalam Tahir Marzuki (2005), perencanaan usahatani akan menolong keluarga tani di pedesaan. Diantaranya pertama, mendidik para petani agar mampu berpikir dalam menciptakan suatu gagasan yang dapat menguntungkan usahataninya. Kedua, mendidik para petani agar mampu mangambil sikap atau suatu keputusan yang tegas dan tepat serta harus didasarkan pada pertimbangan yang ada. Ketiga, membantu petani dalam memperincikan secara jelas kebutuhan sarana produksi yang diperlukan seperti bibit unggul, pupuk dan obat-obatan. Keempat, membantu petani dalam mendapatkan kredit utang yang akan dipinjamnya sekaligus juga dengan cara-cara pengembaliannya. Kelima, membantu dalam meramalkan jumlah produksi dan pendapatan yang diharapkan.
Soekartawi (2005) Perencanaan input-input dan sarana produksi mencakup kegiatan mengidentifikasi input-input dan sarana produksi yang dibutuhkan, baik dari segi jenis, jumlah dan mutu atau spesifikasinya. Setelah itu maka disusun rencana dan sistem pengadaannya dua hal mendasar yang perlu menjadi titik perhatian dalam memilih sistem pengadaan adalah membuat sendiri atau membeli.
Pengorganisasian mengenai sumberdaya berupa input-input dan sarana produksi yang akan digunakan akan sangat berguna bagi pencapaian efisiensi usaha dan waktu. Pengorganisasian tersebut terutama menyangkut bagaimana mengalokasikan berbagai input dan fasilitas yang akan digunakan dalam proses produksi sehingga proses produksi dapat berjalan secara efektif dan efisien. Pencapaian efektivitas dalam pengorganisasian menekankan pada penempatan fasilitas dan input-input secara tepat dalam suatu rangkaian proses, baik dari segi jumlah maupun mutu dan kapasitas. Dilain pihak, pencapaian efisiensi dalam pengorganisasian input-input dan fasilitas produksi lebih mengarah kepada optimasi penggunaan berbagai sumberdaya tersebut sehingga dapat dihasilkan output maksimum dengan biaya minimum. Dalam usahatani pengorganisasian input-input dan fasilitas produksi menjadi penentu dalam pencapaian optimalitas alokasi sumber-sumber produksi (Soekartawi, 2005).
Pengawasan dalam usaha produksi pertanian meliputi pengawasan anggaran, proses, masukan, jadwal kerja yang merupakan upaya untuk memperoleh hasil maksimal dari usaha produksi. Sedangkan evaluasi dilakukan secara berkala mulai saat perencanaan sampai akhir usaha tersebut berlangsung, sehingga jika terjadi penyimpangan dari rencana yang dianggap dapat merugikan maka segera dilakukan pengendalian (Soekartawi, 2005).
Pengawasan pada suatu usahatani meliputi pengawasan terhadap penggunaan faktor produksi lahan, bibit, pupuk, obat-obatan dan persediaan modal untuk membiayai usaha pertanian. Dengan pengawasan yang baik terhadap penggunaan faktor-faktor produksi dapat menentukan efisien tidaknya suatu usahatani. Seringkali dijumpai makin luas lahan yang dipakai sebagai usaha pertanian akan semakin tidak efisien lahan tersebut. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa luasnya lahan mengakibatkan upaya untuk melakukan tindakan yang mengarah pada segi efisiensi akan berkurang disebabkan lemahnya pengawasan terhadap penggunaan faktor produksi bibit, pupuk, obat-obatan dan terbatasnya persediaan modal untuk pembiayaan usaha pertanian dalam skala tersebut. Sebaliknya pada luas lahan yang sempit, upaya pengawasan terhadap faktor produksi semakin baik, sebab diperlukan modal yang tidak terlalu besar sehingga usaha pertanian seperti ini lebih efisien. Meskipun demikian, luasan yang terlalu kecil cenderung menghasilkan usaha yang tidak efisien pula (Soekartawi, 1999).
Selanjutnya dikemukakan bahwa Pengendalian dalam usaha produksi pertanian berfungsi untuk menjamin agar proses produksi berjalan pada rel yang telah direncanakan. Dalam usahatani misalnya pengendalian dapat dilakukan pada masalah kelebihan penggunaan tenaga manusia, penggunaan air, kelebihan biaya pada suatu tahap proses produksi dan lain-lain.
Faktor produksi tersebut berpengaruh pada biaya produksi sedangkan keduanya akan mempengaruhi penerimaan usahatani. Penerimaan usahatani akan terkait dengan jumlah produk yang dihasilkan dengan harga komoditas. Salah satu yang menentukan komoditas adalah jumlah permintaan dan penawaran harga produk dan faktor produksi yang sering mengalami perubahan akan berpengaruh terhadap tingkat keuntungan yang diterima. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani adalah luas usaha, tingkat produksi, pilihan kombinasi usaha dan juga intensitas pengusahaan tanaman (Hernanto, 1991).
Pengaruh penggunaan faktor produksi dapat dinyatakan dalam tiga alternatif sebagai berikut :
1.      Decreasing return to scale artinya bahwa proporsi dari penambahan faktor produksi melebihi proporsi pertambahan produksi
2.      Constant return to scale artinya bahwa penambahan faktor produksi akan proporsional dengan penambahan produksi yang diperoleh
3.      Increasing return to scale artinya bahwa proporsi dari penambahan faktor produksi akan menghasilkan pertambahan produksi yang lebih besar (Soekartawi,2000).
Keuntungan usahatani dapat dianalisis dengan menggunakan analisis R/C ratio untuk mengetahui apakah usahatani tersebut menguntungkan atau tidak dan analisis fungsi keuntungan untuk mengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh, analisis biaya per unit untuk mengetahui keuntungan setiap unitnya (kg) (Kartasapoetra, 2001).
Menurut Soekartawi (1999), bahwa dalam melakukan usaha pertanian seorang pengusaha atau petani dapat memaksimumkan keuntungan dengan “Profit Maximization dan Cost Minimization”. Profit maximization adalah mengalokasikan input seefisien mungkin untuk memperoleh output yang maksimal, sedangkan cost minimization adalah menekankan biaya produksi sekecil-kecilnya untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar.
2.      Dampak ProgramTerhadap Keberlanjutan Pertanian Masa Depan
Pertanian organik sudah sejak lama kita kenal, saat itu semuanya dilakukan secara tradisonal dan menggunakan bahan-bahan alamiah. Sejalan dengan perkembangan ilmu pertanian dan ledakan populasi manusia maka kebutuhan pangan juga meningkat. Saat itu revolusi hijau di Indonesia memberikan hasil yang signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan. Dimana penggunaan pupuk kimia sintetis, penanaman varietas unggul berproduksi tinggi (high yield variety), penggunaan pestisida, intensifikasi lahan dan lainnya mengalami peningkatan. Pencemaran pupuk kimia, pestisida dan lainnya akibat kelebihan pemakaian, berdampak terhadap penurunan kualitas lingkungan serta kesehatan manusia.
Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam jangka waktu lama mulai disadari sehingga dicari alternatif bercocok tanam yang dapat menghasilkan produk yang bebas dari cemaran bahan kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat. Sejak itulah mulai dilirik kembali cara pertanian alamiah (back to nature). Pertanian organik modern sangat berbeda dengan pertanian alamiah di jaman dulu. Dalam pertanian organik modern dibutuhkan teknologi bercocok tanam, penyediaan pupuk organik, pengendalian hama dan penyakit menggunakan agen hayati atau mikroba serta manajemen yang baik untuk kesuksesan pertanian organik tersebut. Pertanian organik di definisikan sebagai “sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan. Lebih lanjut IFOAM (International Federation of Organik Agriculture Movements) menjelaskan pertanian organik adalah sistem pertanian yang holistik yang mendukung dan mempercepat biodiversiti, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah.
Pada saat ini bagi pertanian di Indonesia dalam peningkatan hasil produksi yaitu melalui pola pertanian dengan metoda SRI-Organik. Metode ini menekankan pada peningkatan fungsi tanah sebagai media pertumbuhan dan sumber nutrisi tanaman. Melalui sistem ini kesuburan tanah dikembalikan sehingga haur-daur ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman. Melalui metode ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian juga dengan taraf kesehatan manusia dengan tidak digunakannya bahan-bahan kimia untuk pertanian.
2.3.  Tinjauan Komoditas kangkung

2.3.1.   Klasifikasi Kangkung

Klasifikasi Ilmiah
-          Kerajaan          : Plantae
-          Divisi               : Monocotyledoneae
-          Kelas               : spermatophyta
-          Ordo                : Soleanes
-          Famili              : Convolvulaceae
-          Genus              : Ipomoea
-          Spesies            : Ipomoea reptans

Tanaman kangkung Berasal dari wilayah India yang kemudian menyebar ke Malaysia, Burma, Indonesia, China Selatan Australia dan bagian negara Afrika. Kangkung banyak terdapat di kawasan Asia dan merupakan tumbuhan yang dapat dijumpai hampir di mana-mana terutama di kawasan berair. Hampir dapat dipastikan masyarakat Indonesia sudah mengenal sayuran kangkung. Tanaman Daerah penyebaran tanaman kangkung pada mulanya terpusat (terkonsentrasi) di beberapa tempat atau negara, antara lain di Malaysia dan sebagian kecil di Australia. Dalam perkembangan selanjutnya, tanaman ini meluas cukup pesat di daerah Asia Tenggara. Kangkung tergolong sayur yang sangat populer, karena banyak peminatnya. Di China tanaman kankung ini disebut Weng Cai sedangkan di Eropa Kangkung disebut juga Swamp cabbage, Water convovulus, Water spinach.
Kangkung terdiri dan dua varietas, yakni kangkung darat yang disebut kangkung cina dan kangkung air yang tumbuh secara alami di sawah, rawa, atau parit. Berikut tabel 1 perbedaan antara kangkung darat dan kangkung air terletak pada warna bunga. Kangkung air berbunga putih kemerah-merahan, sedangkan kangkung darat bunga putih bersih.



No
Bagian
Kangkung Darat
(Ipomoea  reptans)
Kangkung Air
(Ipomoea aquatica)
1
Warna Bunga
Putih bersih
Putih kemerah - merahan
2
Bentuk Daun
Kecil
 Besar
3
Warna Batang
Putih kehijauan – hijauan
Hijau
4
Kebiasaan Biji
Banyak berbiji
Stek pucuk daun
            Tabel 2.3.1. perbedaan antara kangkung darat dan kangkung air
2.3.2.   Syarat Pertumbuhan tanaman kankung
  1. Iklim
Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik sepanjang tahun. Kangkung darat dapat tumbuh pada daerah yang beriklim panas dan beriklim dingin dengann Jumlah curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini berkisar antara 500-5000 mm/tahun. Pada musim hujan tanaman kangkung pertumbuhannya sangat cepat dan subur, asalkan di sekelilingnya tidak tumbuh rumput liar. Dengan demikian, kangkung pada umumnya kuat menghadapi rumput liar, sehingga kangkung dapat tumbuh di padang rumput, kebun/ladang yang agak rimbun.
Tanaman kangkung membutuhkan lahan yang terbuka atau mendapat sinar matahari yang cukup. Di tempat yang terlindung (ternaungi) tanaman kangkung akan tumbuh memanjang (tinggi) tetapi kurus-kurus. Kangkung sangat kuat menghadapi panas terik dan kemarau yang panjang. Apabila ditanam di tempat yang agak terlindung, maka kualitas daun bagus dan lemas sehingga disukai konsumen.Suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian tempat, setiap naik 100 m tinggi tempat, maka temperatur udara turun 1 derajat C. Apabila kangkung ditanam di tempat yang terlalu panas, maka batang dan daunnya menjadi agak keras, sehingga tidak disukai konsumen.
  1. Media Tanam
Kangkung darat menghendaki tanah yang subur, gembur banyak mengandung bahan organik dan tidak dipengaruhi keasaman tanah. Tanaman kangkung darat tidak menghendaki tanah yang tergenang, karena akar akan mudah membusuk. Sedangkan kangkung air membutuhkan tanah yang selalu tergenang air. Tanaman kangkung membutuhkan tanah datar bagi pertumbuhannya, sebab tanah yang memiliki kelerengan tinggi tidak dapat mempertahankan kandungan air secara baik.
  1. Ketinggian Tempat
Kangkung dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan) ± 2000 meter dpl. Baik kangkung darat maupun kangkung air, kedua varietas tersebut dapat tumbuh di mana saja, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Hasilnya akan tetap sama asal jangan dicampur aduk.
2.3.3.   Pedoman Teknis Budidaya Kankung Organik
  1. Pembibitan
-          Persyaratan Bibit Kankung Darat
Dalam pemilihan bibit harus disesuaikan dengan lahan (air atau darat). Karena kalau kangkung darat ditanam di lahan untuk kangkung air produksinya kurang baik, warna daun menguning, bentuk kecil dan cepat membusuk.
Bibit kangkung sebaiknya berasal dari kangkung muda, berukuran 20 -30 cm. Pemilihan bibit harus memperhatikan hal-hal seperti berikut, batang besar, tua, daun besar dan bagus. Penanamannya dengan cara stek batang, kemudian ditancapkan di tanah. Sedangkan biji untuk bibit harus diambil dari tanaman tua dan dipilih yang kering serta berkualitas baik.
-          Penyiapan benih
Benih kangkung yang akan ditanam adalah stek muda, berukuran 20-30 cm, dengan jarak tanam 1,5 x 15 cm. Untuk benih dari biji kangkung diambil dari tanaman yang tua. Benih yang diperlukan untuk seluas 10 m2 atau 2 bedengan ± 300 gram, jika tiap lubang diisi 2-3 butir biji.
-          Teknik penyiapan benih
Biji dengan ukuran diameter 3 mm, disebar dalam baris-baris berjarak 15 cm dengan jarak kira-kira 5 cm antara masing-masing biji. Kultivar yang berbiji dapat tahan tanah lembab dan tumbuh baik dalam musim hujan.
-          Pemeliharaan pembenihan
Agar diperoleh hasil panen yang baik, dalam pemeliharaan pembenihan kangkung diperlukan penyiraman teratur dan kerap pada cuaca kering.
  1. Pengolahan Media tanam
Mula-mula tanah di cangkul guna membalik-balik tanah untuk mempermudah menenam. Pembajakan dapat dilakukan dengan cangkul jika dalam lahan pendek atau traktor untuk lahan luas. Setelah tanah dibajak maka tanah disisir untuk meratakan permukaan tanah. Dalam penyisiran dilakukan pemecahan tanah dengan gumpalan yang keras menjadi lebih kecil.
Bedengan dibagi menjadi empat bagian dengan jarak 15-20 cm guna mempermudah perawatan dan mengurangi persaingan antar tanaman. Selain itu pengambilan jarak bedengan ini harus seefektif mugkin agar tidak merugikan. Hal ini diperuntukkan sebagai selokan untuk pengairan, tempat bekerja sewaktu menanam, memupuk, menyiram, dan memanen.
Bedengan adalah kegiatan pengolahan tanah dengan meninggikan tanah yang akan dijadikan tempat untuk menanam tanaman kita. Membuat bedengan dilakukan dengan ukuran lebar 1 m dan tinggi 30 cm. Jarak antarbedengan 30 cm yang juga berfungsi sebagai selokan untuk pengairan, tempat bekerja sewaktu menanam, memupuk, menyiram, dan memanen. Panjang bedengan disesuaikan dengan situasi lahan, maksimal panjangnya 10 m. Dan dalam pelaksanaan penelitian dilakukan dalam bedengan sepanjang 6 meter.
Pemanfaatan bedengan dilakukan untuk mempermudah pembuangan air hujan, mempermudah perawatan, mempermudah meresapnya air hujan, dan menghindari pemadatan tanah. Dengan metode olah media tanam yang lain yaitu menggunakan polybag, pada bagian polybag, dilubangi pada 2 bagian dari bawah untuk drainase, dan melipat 1/3 bagian atas sehingga berupa tabung, kemudian diisi dengan campuran media sampai penuh.Menyiram media yang sudah dimasukkan pada polybag sampai jenuh, yakni sampai semua media basah dan air mengalir sampai bawah. Setelah disiram maka media akan turun dan menjadi lebih padat. Sebaiknya media tidak langsung ditanami, istirahatkan selama 1 malam.
Pemupukan dasar dilaksanakan menggunakan pupuk kandang. Pupuk kandang diratakan diatas bedengan kemudian diaduk dengan menggunakan cangkul. Pupuk Kandang yang telah siap pakai sebanyak 10 ton/ha atau 1 kg/m2 ditebar dan dicampur dengan tanah diatas bedengan. Pemberian pupuk kandang cukup dilakukan satu kali untuk setiap 6 bulan masa tanam.
Pada tahapan ini yaitu menggunakan media tanam sisa dari penggunaan polybag tempat tanam sayuran sebelumnya. Maka dari itu diperlukan olah tanah yang ada dalam polybag tersebut secara menyeluruh. Dengan cara menggunakan cethok atau tanah yang ada dalam polybag dikeluarkan kemudian dicampuratakan semuanya,selanjutatnya dimasukkan kembali ke polybag.
  1. Teknik Penanaman
Pada tahapan ini dilakukan penanaman jenis sayuran kangkung, bibit berupa biji dapat langsung ditanam dengan cara melubangi media menggunakan tongkat atau kayu pelubang dengan kedalaman kurang lebih 1 ruas jari. satu Polybag dapat diisi antara 25 – 30 biji, atau disesuaikan dengan ukuran polybag. Setelah semua lubang terisi biji, kemudian ditutup dengan tanah dengan cara meratakannya. Siram kembali dengan air, dan selanjutnya penyiraman cukup dilakukan sekali dalam sehari. Sebaiknya penyiraman dilakukan pada sore hari.
Sebelum dilakukan penanaman benih kankung, dilakukan penyiraman pada tanah yang ada dalam polybag, agar kondisi tekstur dan struktur tanah yang lembab sesuai untuk penanaman. Setelah itu satu polybay dibuat lubang kecil sebanyak 30 lubang untuk tempat benih di tanam. Untuk tiap lubang diberi satu benih.

  1. Pemeliharaan Tanaman
Pada tahapan ini adalah Pemeliharaan yang merupakan hal yang penting. Sehingga akan sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan didapat. Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah penyiraman, ini tergantung pada musim, bila musim penghujan dirasa berlebih maka kita perlu melakukan pengurangan air yang ada, tetapi sebaliknya bila musim kemarau tiba kita harus menambah air demi kecukupan tanaman sawi yang kita tanam. Bila tidak terlalu panas penyiraman dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari.
Selanjutnya tahap yang dilakukan adalah penyulaman, penyulaman ialah tindakan penggantian tanaman ini dengan tanaman baru. Caranya sangat mudah yaitu tanaman yang mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan tanaman yang baru.
Tahapan selanjutnya perawatan tanaman melalui pembersihan Rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman kangkung menjadi pesaing terhadap kebutuhan air, sinar matahari, dan unsur hara. Biasanya penyiangan dilakukan 1 atau 2 minggu setelah penanaman. Apabila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan penyiangan Disamping itu, gulma seringkali menjadi sarang hama yang dapat mengancam tanaman kangkung. Oleh karena itu, rumput liar tersebut harus disiangi. juga membersihkan dari gangguian binatang seperti halnya ulat dan walang, sampai masa panen tiba.
  1. Panen
Pada 30 hari setelah bibit kangkung darat disemai, tanaman kangkung yang tumbuh telah dapat dipanen. Pemanenan yang dilakukan pertama dan kedua dilaksanakan dengan menjarangkan tanaman terlebih dahulu. Pemanenan dapat dilakukan pada pagi hari dan sore hari
  1. Pasca panen
Pada tahapan terakhir dari budidaya tanaman kangkung adalah pasca panen yang terdiri dari Sortasi dan grading. Tujuan dari sortasi adalah untuk memisahkan kankung berdasar jenis, ukuran, dan tingkat kesegaran.dilakukan pada tempat yang teduh. Tanaman dengan panjang yang sama diikat dengan berat 150-200 g. Kemudian dilakukan Pengemasan dan siap untuk dipasarkan.
2.4. Tinjauan Biaya Usahatani
Dalam tiap jenis usaha produksi ( uasahatani), selalu terdapat hubungan antara input (masukan ) dan output (hasil).hubungan itu sering disebut dengan “hubungan fungsional” antara input dan output.
Beberapa definisi tentang banyak makna atau artinya biaya usahatani, diantaranya:
a)      Merupakan pegangan untuk menemukan landasan utama dalam menyusun rencana pengelolaan dan anggaran usahatani.
b)      Merupakan petunjuk penentuan saat yang tepat guna mengadakan perubahan – perubahan dalam usahatani
c)      Merupakan arah guna menemukan cara untuk mengadakan perbandingan kemajuan – kemajuan yang tercapai dalam usahatani itu sendiri (perbandingan vertikal atau keatas) atau perbandingan antara usahatani yang satu dengan yang lain (perbandingan horizontal atau mendatar.
Jika demikian maka dapat dikatakan bahwa hubungan funfsional antara input dan output itu merupakan landasan utama dari rencana pengelolaan dari anggaran usahatani. Karenanya maka unsur – unsur dari input (masukan) dan output (hasil) itu harus jelas cara menghitungnya.
No
Input
Usahatani
Output
Usahatani
1
Unsur alam
Bunga tanah/sewa tanah
2
Unsur tenaga kerja
Bahan – bahan
3
Unsur modal
Bunga modal
4
Menejemen
Modal
5
Sosisal budaya
Penyusutan
6

Upah
7

Pembayaran
8

Pajak atau beban sosial
9

Keuntungan

Tabel 2.4. Macam – macam dari input dan output dari usahatani
Dalam hal tertentu, biaya adalah seperti apa yang kita pikirkan. Seperti semua gambaran usahatani lainnya, biaya jelas dan mudah diukur (seperti uang tunai yang keluar dari kantong) sedangkan lainnya merupakan hal yang tersembunyi ( biaya non tunai seperti mesin yang akan habis dalam beberapa tahun , tetapi susut secara perlahan-lahan) dan hanya diduga secara kasar.
            Biaya usahatani itu sendiri mempunyai arti semua pengeluaran yang dipergunakan dalam suatu usahatani. Biaya usahatani biasanya diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
  1. Biaya tetap (fixed cost)
Yaitu seluruh biaya yang tidak langsung berkaitan dengan jumlah tanaman yang dihasilkan diatas lahan ( biaya ini harus dibayar apakah menghasilkan sesuatu atau tidak, termasuk didalamnya sewa lahan, pajak lahan, pembayaran kembali pinjaman, biaya hidup).
Biaya tetap kadang-kadang disebut overhead adalah biaya-biaya yang dalam batas tertentu tidak berubah ketika tingkat kegiatan berubah. Jadi, kenaikan penggunaan lahan sebanyak 20% untuk suatu jenis tanaman, atau jumlah ternak, tidak meningkatkan biaya tetap. Apabila kenaikan sebesar 100% sekalipun, akan meningkatkan biaya tetap.
Pada kebanyakan usahatani, biaya-biaya tetap tidak terlalu banyak berubah mengikuti tingkat atau campuran perubahan kegiatan kecuali, tentu saja kenaikan karena pertambahan biaya.
  1. Biaya tidak tetap (variable cost)
Yaitu seluruh biaya yang secara langsung berkaitan dengan jumlah tanaman yang diusahakan dan dengan input variabel yang dipakai (misalnya penyiangan, tenaga kerja, pupuk, bibit).
Biaya variabel juga dikenal sebagai biaya-biaya langsung. Biaya-biaya ini berubah-ubah mengikuti ukuran dan/atau tingkat output suatu kegiatan. Misalnya, jika lahan yang ditanami suatu komoditas diperluas 50%, maka bibit, pupuk, dan tenaga kerja  juga akan bertambah (walaupun tidak harus 50%).
Upaya untuk mengidentifikasi biaya-biaya variabel suatu kegiatan dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada petani mengenai besarnya perubahan biaya jika memperluas atau mengontrak kegiatan apapun.
Biaya total = biaya tetap total + biaya variabel total

Untitled-TrueColor-01
Gambar 2.4. biaya tetap, biaya variabel, dan biaya total rata-rata

        Karena biaya tetap harus “dibayar” apakah terjadi produksi atau tidak, komponen biaya tetap dalam biaya total untuk menghasilkan 1 satuan output akan lebih tinggi dibandingkan  dengan biaya tetap dari biaya total untuk menghasilkan10 satuan output. Semakin banyak output yang dihasilkan, semakin rendah biaya tetap untuk menghasilkan setiap satuan output ( biaya tetap tersebar pada output yang lebih banyak). Jadi biaya tetap rata-rata cenderung menurun begitu kuantitas output bertambah (lihat Gambar 2.4)
2.5 Tinjauan Pemasaran
2.5.1.  Definisi Pemasaran
Ada beberapa definisi mengenai pemasaran diantaranya adalah :
a. Philip Kotler (Marketing). pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran
b. Menurut Philip Kotler dan Amstrong .pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.
c. Menurut W Stanton. pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.
Dari beberapa definisi pemasaran diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa definisi pemasaran dari sudut pandang usahatani yaitu suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu atau kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mmempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain atau segala kegiatan yang menyangkut penyampaian produk atau jasa mulai dari produsen sampai konsumen.
2.5.2 Konsep Pemasaran
Dalam pemasaran terdapat enam konsep yang merupakan dasar pelaksanaan kegiatan pemasaran suatu organisasi yaitu : konsep produksi, konsep produk, konsep penjualan, konsep pemasaran, konsep pemasaran sosial, dan konsep pemasaran global.
1. Konsep produksi
Konsep produksi berpendapat bahwa konsumen akan menyukai produk yang tersedia dimana-mana dan harganya murah. Konsep ini berorientasi pada produksi dengan mengerahkan segenap upaya untuk mencapai efesiensi produk tinggi dan distribusi yang luas. Disini tugas manajemen adalah memproduksi barang sebanyak mungkin, karena konsumen dianggap akan menerima produk yang tersedia secara luas dengan daya beli mereka.
2. Konsep produk
Konsep produk mengatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang menawarkan mutu, performansi dan ciri-ciri yang terbaik. Tugas manajemen disini adalah membuat produk berkualitas, karena konsumen dianggap menyukai produk berkualitas tinggi dalam penampilan dengan ciri – ciri terbaik
3. Konsep penjualan
Konsep penjualan berpendapat bahwa konsumen, dengan dibiarkan begitu saja, organisasi harus melaksanakan upaya penjualan dan promosi yang agresif.
4. Konsep pemasaran
Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunsi untuk mencapai tujuan organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing.
5. Konsep pemasaran sosial
Konsep pemasaran sosial berpendapat bahwa tugas organisasi adalah menentukan kebutuhan, keinginan dan kepentingan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan dengan cara yang lebih efektif dan efisien daripasda para pesaing dengan tetap melestarikan atau meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat.
6. Konsep Pemasaran Global
Pada konsep pemasaran global ini, manajer eksekutif berupaya memahami semua faktor- faktor lingkungan yang mempengaruhi pemasaran melalui manajemen strategis yang mantap. tujuan akhirnya adalah berupaya untuk memenuhi keinginan semua pihak yang terlibat dalam perusahaan.
2.5.3. Rencana Pemasaran
Yaitu harus terinci  dan diperlukan untuk setiap bisnis, produk atau merk. Sebagai syarat minimal perencanaan harus berisi bagian-bagian sebgai berikut:
Bagian
tujuan
Ringkasan bagi ekskutif



Situasi pemasaran saat ini



Analisis ancaman dan peluang



Sasaran dan isu




Strategi pemasaran



Program tindakan



Anggaran



Pengendalian
Menyajikan pandangan singkat atas rencana yang diusulkan agar dapat ditinjau dengan cepat oleh manajemen.

Menyajikan data latar belakang yang relevan mengenai pasar, produk, persaingan dan distribusi.

Mengidentifikasi ancaman dan peluang utama yang mungkin mempengaruhi produk.

Menentukan sasaran perusahaan untuk produk di bidang penjualan, pangsa pasar, laba serta isu yang akan mempengaruhi sasaran ini.

Menyajikan pendekatan pemasaran yang luas, yang akan digunakan untuk mencapai sasaran dalam rencana.

Menspesifikasikan apa yang akan dilakukan, siap yang akan melakukannya, kapan dan berapa biayanya.

Laporan laba dan rugi yang diproyeksikan yang meramalkan hasil keuangan yang diharapkan dari rencana tadi.

Menunjukkan bagaimana kemajuan rencana akan dipantau.
Tabel 2.5.3. Rencana Pemasaran
Pemasaran terdiri dari beberapa aspek konsep inti, yakni kebutuhan manusia, keinginan (kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh budaya dan kepribadian individual), permintaan akan produk dan jasa dengan manfaat yang paling memuaskan, ketersediaan produk, nilai dan kepuasan dari pelanggan yang berkaitan pula dengan mutu produk, sistem hubungan dan transaksi, jaringan distribusi dan peluang pasar, serta pemasar dan calon pembelinya.




 III. METODOLOGI

3.1. Teknik Budidaya Kankung Darat (Ipomoea reptans)
 





























Gambar 3.1. Diagram Alir Teknik Budidaya Kankung Darat (Ipomoea reptans)
3.2. Teknik Pemasaran
Rounded Rectangle: 1.	Product
Macam perlakuan:
-	Packing
-	Branding
-	labelling
Rounded Rectangle: 2. Place
Tipe saluran distribusi:
-	Tempat makan atau warung
-	Kios rumah tangga
 
























Gambar 3.2. Teknik Pemasaran dari kangkung darat (Ipomoea reptans)
3.3. Teknik Perhitungan Biaya
Cara menghitung biaya tetap adalah :
           
Ialah:
            FC = biaya tetap
            Xi = jumlah fisik dari input yang membentuk biaya tetap
            Pxi = harga input
            n = macam input
            Bila besarnya biaya tetap ini tidak dapat dihitung dengan rumus tersebut, maka sekaligus ditetapkan nilainya saja. Misalnya pajak irigasi yang harus di bayar. Karena tidak diketahui berapa liter air yang dipakai untuk irigasi, maka untuk menghitung biaya tetap diperhitungkan langsung berapa rupiah yang dibayarkan untuk biaya irigasi tersebut. Kadang-kadang biaya tetap ini berubah atau diperlakukan sebagai biaya variabel bila angka penyusutan (misalnya alat-alat pertanian) dihitung.
            Rumus tersebut dapat juga dipakai untuk menghitung biaya variabel. Karena
                        TC = FC +VC
Kesulitan dalam menghitung biaya usahatani biasanya timbul bila tanaman yang di usahakan itu lebih dari satu macam tanaman, Misalnya tumpang sari.
Dalam analisis usahatani sering dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan Analisis Finansial  dan  Analisis Ekonomi. Dalam analisis finansial, data biaya yang dipakai adalah data riil yang sebenarnya dikeluarkan. Dalam analisis ekonomi, data yang digunakan data menurut ukuran harga bayangan (shadow price).
3.4. Teknik Perhitungan  Penerimaan
Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi dengan harga jual. Pernyataan ini dapat dituliskan sebagai berikut:
                        TRi = Yi . Pyi
Yaitu:  TR = total penerimaan
            Y = produksi yang diperolehdalam suatu usahatani i
            Py = Harga Y
Apabila macam tanaman yang ditanam lebih dari satu, maka rumus tersebut berubah menjadi:
                        TR = ∑ni=1 Y.Py
            n = jumlah macam tanaman yang diusahakan
            Dalam menghitung penerimaan usahatani, beberapa hal perlu diperhatikan :
1.      Hati-hati dalam menghitung produksi pertanian, karena tidak semua produksi pertanian di panen secara serentak.
2.      Hati-hati dalam menghitung penerimaan karena produksi mungkin dijual beberapa kali sehingga diperlukan data frekuensi penjualan, dan produksi mungkin dijual beberapa kali dengan harga yang berbeda-beda, jadi disamping frekuensi penjualan yang perlu deketahui juga harga jual pada masing-masing penjualan tersebut.
3.      Bila penelitian usahatani ini menggunakan responden petani, maka diperlukan teknik wawancara yang baik untuk membantu petani mengingat kembali produksi dan hasil penjualan yang diperolehnya.
3.5. Teknik Perhitungan Pendapatan
3.5.1. Pendapatan Usahatani
Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya, atau suatu Keuntungan Usahatani dari selisih antara penerimaan dan semua biaya.
            Keuntungan = TR (Total Revenue) - TC (Total Cost). Bila menggunakan analisis ekonomi, maka TC biasanya lebih besar daripada menggunakan analisis finansial
                        Pd = TR – TC
Dimana:           Pd = pendapatan usahatani
                        TR = total penerimaan
                        TC = total biaya

3.5.2. Harga Bayangan (Shadow Price)
v  Pudjo Sumarto (1991) menyatakan bahwa harga bayangan (shadow price) merupakan suatu harga yang nilainya tidak sama dengan harga pasar, tetapi harga barang tersebut dianggap mencerminkan nilai sosial sesungguhnya dari suatu barang dan jasa.
v  Harga bayangan digunakan untuk menyesuaikan terhadap harga pasar dari beberapa faktor produksi atau hasil produksi.
v  Gray et al. (1992) menyatakan bahwa shadow price dari suatu produk atau faktor produk merupakan social opportunity cost, yaitu nilai tertinggi suatu produk atau faktor produksi dalam penggunaan alternatif terbaik. Shadow price dari suatu produk umumnya ditentukan oleh saling dipengaruhinya penawaran dan permintaan terhadap faktor produksi.
v  Timbulnya harga bayangan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1.      Perubahan-perubahan dalam perekonomian yang terlalu cepat, sehingga mekanisme pasar tidak dapat mengikutinya.
2.      Proyek-proyek yang terlalu besar  atau invisible, menyebabkan perubahan dalam harga pasar yang tidak dapat dipakai untuk mengukur nilainya.
3.      Unsur-unsur monopolistis di dalam pasar
Berbagai macam input/output sehingga tidak dapat dibeli atau dijual dengan cara  biasa.
Harga bayangan meliputi :
  1. Harga bayangan hasil produksi atau output
            Harga sosial didekati dengan harga batas (border price) yaitu CIF (Cost Insurance Freight).
  1. Harga bayangan tanah
            Menurut Gittinger (1986), ada 3 macam penilaian harga bayangan faktor produksi tanah yaitu :
            a. Menilai faktor produksi tanah sesuai dengan harga beli,
            b. Menilai faktor produksi tanah sesuai dengan perkiraan nilai netto biaya
                produksi yang hilang/diluangkan (opportunity cost)
            c. Menilai faktor produksi tanah sesuai dengan nilai sewanya.
  1. Harga bayangan tenaga kerja
            Dalam menentukan harga sosial tenaga kerja, maka perlu dibedakan antara tenaga kerja terdidik atau terlatih dengan tenaga kerja tidak terdidik, sebagai asumsi pasar dalam keadan bersaing sempurna tingkat upah dan mencerminkan produktivitas marginalnya.
  1. Harga bayangan nilai tukar
            Dapat ditentukan dengan menggunakan harga atau nilai valas yang ditentukan oleh lembaga pemerintahan yang berwenag. Cara lain untuk menghitung harga sosial nilai tukar asing adalah dengan mencari faktor konversi terhadap nilai tukar resmi
3.6. Teknik Perhitungan Kelayakan Usahatani
Break Even point atau BEP adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan / profit. Analisis BEP bertujuan menemukan satu titik baik dalam unit maupun rupiah yang menunjukan biaya sama dengan pendapatan.
Dengan mengetahui titik tersebut, berarti belum diperoleh keuntungan atau dengan kata lain tidak untung tidak rugi. Sehingga dikala penjualan permisi lewat melebihi BEP maka mulailah keuntungan diperoleh. Sasaran analisis BEP tidak lain mengetahui pada tingkat volume berapa titik impas berada. Dalam kondisi lain, analisis BEP pun digunakan untuk membantu pemilihan jenis produk atau proses dengan mengidentifikasi produk atau proses yang mempunyai total biaya terendah untuk suatu volume harapan. Sedangkan dalam pemilihan lokasi, analisis BEP dipakai untuk menentukan lokasi berbiaya total terendah, yang berarti total pendapatan tertunggi untuk kapasitas produksi yang ditentukan. Analisis BEP dibedakan antara penggunaan untuk produk tunggal dan atau untuk beberapa produk sekaligus. Mayoritas perusahaan memproduksi atau menjual lebih dari satu produk menggunakan fasilitas yang sama.
Rumus analisis BEP :
BEP Unit =  

BEP = Total Fixed Cost / (Harga perunit - Variabel Cost Perunit)
Keterangan :
- Fixed cost : biaya tetap yang nilainya cenderung stabil tanpa dipengaruhi unit yang diproduksi.
- Variable cost : biaya variabel yang besar nilainya tergantung pada benyak sedikit jumlah barang yang diproduksi.
Analisis R/C
                        R/C adalah singkatan dari Return Cost Ratio, atau di kenal sebagai perbandingan antara penerimaan dan biaya. Secara matematik dapat dituliskan sebagai berikut :
a = R/C
R = Py. Y
C = FC +VC
a = {(Py.Y)/(Fc+VC)}

 
           
Atau

                                                                                    

Dimana:           R = penerimaan
                        C = biaya
                        Py = harga output
                        Y = output
                        FC = biaya tetap
                        VC = biaya variabel                            

Dimana: Yi                  : jumlah produk         
            Pxn                   : harga input
            Pi                     : harga produk
            Xn                   : jumlah input
            1...m                 : jumlah jenis input
            R/C ≥1            : menguntungkan
            R/C <1            : menguntungkan

            Secara teoritis rasio R/C = 1 artinya tidak untung dan tidak pula rugi. Namun karena adanya biaya usahatani yang kadang-kadang tidak dihitung, maka kriterianya dapat diubah: misalnya R/C yang lebih dari atu, bila suatu usahatani itu dikatakan menguntungkan.






Gambar 3.6. kurva Titik Impas (BEP) Usahatani
            Pada gambar tersebut dapat dilihat pada tingkat produsi berapa suatu usaha tani mencapai titik impas atau Break Even Point (BEP). Bila produksi mencapai di sekitar 0Y , maka usahatani itu rugi karena R < TC; sebaliknya bila produksi berada di 0Y maka usahatani itu untung karena R > TC





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Kegiatan Budidaya
            Permintaan akan sayuran organik beberapa tahun terakhir cenderung naik signifikan   tinggi, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai merespon dengan hadirnya produk organik yang dapat dikatakan bebas dari bahan nonkimiawi. Walaupun dari segi harga dapat dikatakan terbilang cukup mahal sehingga lebih identik dengan anggapan harga sayuran organik lebih mahal daripada sayuran anorganik. Pada umumnya dalam proses pemasaran dengan patokan harga yang cukup mahal, hal ini dikarenakan dari sistem budidaya(pembenihan, pengolahan lahan, pemeliharaan, panen dan pasca panen) juga membutuhkan proses yang hati – hati, terutama dari kondisi lahan apa bebas dari campuran kimiawinya. Meskipun banyak orang beranggapan bahwa menggunakan bahan kimia seperti pupuk anorganik, dapat mempercepat pertumbuhan tanaman, tetapi dalam penggunaan bahan kimia tersebut terdapat banyak kelemahan misal salah satunya saja sisa dari kandungan bahan kimia tadi meninggalkan residu pada tanah, sehingga tanah menjadi tercemar dan berkurangnya kandungan bahan organik tanah. Maka dari itu, sekarang ini banyak dibudidayakan sayuran organik. Karena membudidayakan pertanian organik  lebih ramah lingkungan.
            Sebenarnya dalam melakukan kegiatan budidaya sayuran organik tidak diperlukan tempat khusus atau lahan yang sangat luas, tetapi dalam hal lahan (tanah) yang di pakai dalam budidaya adalah tanah yang subur. Dalam hal ini berarti dari kandungan unsur hara baik unsur makro dan mikro tercukupi untuk proses vegetatif dan generatif dari tanaman yang dibudidayan. Seperti dalam melakukan pembudidayaan tanaman sayuran kailan, pak choy, caisim, kangkung dan lain sebagainya. Pada kegiatan budidaya sayuran organik ini tidak harus selalu membutuhkan lahan yang luas, tetapi dalam lahan yang sempit pun juga dapat membudidayakan sayuran organik. Sehingga produktivitas lahan yang ada dapat diperdayagunakan dengan baik.
 Dalam lahan yang sempit dapat menggunakan media tanam seperti polybag, seperti yang dilakukan dalam kegiatan praktikum usahatani pada pembudidayaan sayuran organik (tanaman kankung organik)  yang dilakukan di jalan simpang gajayana, tepatnya di Yayasan Pengembangan Pedesaan Gajayana, mini olympic garden ( belakang swalayan Sardo ).
Praktikum usahatani dalam hal sayuran kangkung organik ini dilakukan sejak tanggal 6 Oktober 2009 dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
a.       Pengolahan Lahan
Pada tahapan pertama ini kegiatan budidaya kangkung organik ini menggunakan media tanam pada Polybag, yang perlu diketahui bahwa polybag yang digunakan adalah sisa dari media tanam sayuran sebelumnya, jadi disini perlunya untuk dilakukan pengolahan secara intensif dengan mencampur tanah yang ada sampai merata, untuk memudahkan proses ini maka menggunakan media karung bekas. Serta menggunakan trolley untuk memindahkan polybag ke tempat semula. dari proses ini maka untuk komponen-komponen input yang diperlukan seperti tenaga kerja pria, biaya sewa karung bekas dan biaya sewa trolley dengan jumlah output sebesar Rp 507,94
b.      Pemupukan dan Penanaman
Pada tahapan ini dilakukan proses pemupukan setelah tanah pada media polybag sudah tercampur rata. Kemudian diberikan pupuk kompos dengan takaran ± 300 gram, untuk memudahkannya dengan cara menggunakan cethok yang dibuat dengan takaran seukuran tersebut. Setelah itu diberikan pada permukaan atas dari lapisan tanah yang ada dalam polybag dengan cara dicampurkan secara merata. Selanjutnya dilakukan masa istirahat selama dua hari pada media tanam polybag, yang bertujuan agar kondisi dari tanah yang selesai diberi pupuk bisa sesuai dengan kondisi kelembapan tanah pada umumnya, karena tanah yang diberi pupuk kompos kondisi kelembapan masih terlalu tinggi untuk proses vigor dari benih untuk berkecambah.
Pada proses berikutnya yaitu dilakukan penyiraman sampai kondisi tanah dapat dikatakan lembab, setelah itu ditanami benih kangkung pada media tanam polybag tersebut. Disini menggunakan benih kangkung darat (Ipomoea reptans). Yang pada masing – masing polybag dibuat 30 lubang dengan kedalaman sekitar satu ruas jari. Yang kemudian tiap lubang diberi satu benih kankung dan ditimbun tanah kembali. Dari proses ini maka untuk komponen-komponen input yang diperlukan seperti alat cethok,  pupuk organik, benih kangkung darat dan tenaga kerja wanita dengan jumlah output sebesar Rp 2451,88
c.       Pemeliharaan dan Penyulaman
Pada tahapan ini dilakukan perawatan tanaman kangkung mulai dari penyiraman yang dilakukan secara teratur dan terjadwal serta melihat dari kondisi cuaca karena sudah memasuki musim penghujan, selanjutnya dilakukan penyiangan yaitu membersihkan dari tumbuhan pengganggu atau gulma, yang secara tidak langsung dapat mengurangi produktivitas dari tanaman kangkung itu sendiri. Dan juga dilakukan penyulaman dengan benih kangkung darat terhadap kondisi tanaman yang mati. Dari proses ini maka untuk komponen-komponen input yang diperlukan seperti tenaga kerja wanita, benih kangkung untuk penyulaman, serta biaya sewa cetok dengan jumlah output sebesarRp  1007,8                   
d.      Panen dan Pasca Panen
Pada tahapan ini yaitu untuk proses pemanenan dilakukan pada dua tahap yaitu dengan cara mencabut tanaman kangkung bersama akarnya. Pada panen pertama didapatkan kangkung dengan hasil ± 180 gram. selanjutnya dilakukan proses pasca panen berupa proses pencucian atau washing untuk membersihkan dari tanah atau kotoran yang ada pada kankung. Kemudian menuju ke proses sortening yaitu disamakan sesuai dengan ukuran, jenis, dan tingkat kesegaran. Diteruskan ke grading dan labelling yang merupakan pengemasan kangkung dan diberi label pada kemasannya. Dengan sekali pengemasan dengan berat 100 gram kangkung. Begitu juga tahapan proses panen dan pasca penen yang kedua dengan alur yang sama. Pada proses panen yang kedua, didapatkan kangkung dengan hasil ± 370 gram. Dari proses ini maka untuk komponen input yang diperlukan yaitu biaya sewa baskom,biaya sewa ember besar, biaya sewa alat timbang, plastik dan label kemasan serta tenaga kerja wanita dan dilakukan dalam dua kali proses pemanenan, karena umur panen pada tanaman kangkung tidak rata (dengan jumlah output sebesar Rp 1128,25)
e.       Pemasaran
Pada tahapan terakhir dari proses budidaya kangkung organik ini adalah kegiatan pemasaran produk. Dengan cara didistribusikan langsung ke tempat makan atau warung dan kios rumah tangga. Proses ini menggunakan transportasi untuk menjangkau tempat tersebut sehingga dapat mengadakan proses jual beli dengan konsumen. Maka dari itu proses ini menggunakan  komponen-komponen input yang diperlukan seperti tenaga kerja wanita, serta sarana distribusi (bensin) dengan jumlah output sebesar Rp 1136,36
4.2.Gambaran Umum Kegiatan Pemasaran
Dalam kegiatan berusahatani budidaya tanaman kangkung organik ini, tentunya dilakukan proses pemasaran setelah dilakukan tahapan pasca penen untuk meningkatkan daya tarik dari produk serta merupakan strategi untuk menarik konsumen. Walaupun untuk tanaman organik untuk tingkat kesegaran tanaman lebih lama dibandingkan dengan tanaman anorganik, akan tetapi tetap dilakukan proses distribusi pemasaran yang cepat agar dapat terjual. Sehingga kesegaran tanaman juga sampai didapatkan oleh konsumen juga. Untuk waktu pemasaran dari tanaman kangkung dilakukan pada pagi hari setelah dilakukan panen dan pasca panen, hal ini tidak dilakukan siang hari dikarenakan proses transpirasi tanaman pada umumnya sangat tinggi pada waktu ini. Dalam kegiatan pemasaran kangkung organik ini menggunakan teknik saluran distribusi pada warung atau tempat makan dan kios rumah tangga yang dilakukan dengan distribusi langsung yaitu dari produsen langsung ke konsumen.  Dengan teknik distribusi langsung menggunakan strategi promosi Personal Selling adalah pendekatan pemasaran dengan cara pembicaraan langsung antara penjual dengan satu atau lebih konsumen sehingga penjual dapat menjelaskan informasi produk lebih rinci.
Dalam usaha pemasaran tanaman kangkung organik ini dilakukan pengemasan ke dalam kantung plastik agar terlihat rapi dan tahan lama, dan berfungsi agar memberikan daya tarik kepada konsumen untuk membelinya. Kemudian setelah dikemas, dipasarkan tanaman kangkung tersebut kepada calon konsumen secara satu persatu. Cara ini memang kelihatan terlalu sulit, tetapi cara ini lebih efisien untuk memperkenalkan dan menjelaskan informasi produk tanaman kangkung kepada calon konsumen secara langsung. Kegiatan promosi ini dilakukan pada pemilik warung atau tempat makan (mayoritas banyak dikunjungi pembeli terutama pagi dan sore) tempatnya di  daerah Dewandaru dalam, kecamatan Lowokwaru, Malang. Beberapa dari konsumen banyak yang bertanya, apa bedanya tanaman kangkung organik dan anorganik. Diperlukan penjelasan secara detail mengenai hal tersebut terutama tentang tatacara budidayanya, dari mulai pengolahan lahan sampai pasca panen yang tidak menggunakan bahan kimia sama sekali. Meskipun dari segi harga tanaman kangkung organik bisa dibilang lebih mahal dari sayuran anorganik, tetapi setelah mengetahui akan dari proses tanam organik serta penjelasan kandungan dari sayuran organik dan manfaatnya, pada umumnya tertarik untuk mencoba membelinya. Waktu pemasarannya pun sesaat setelah pemanenan dan pengemasan kangkung untuk memperkecil kemungkinan kelayuan atau kebusukan kangkung sebelum proses pemasaran dan jual-beli berlangsung.
Selama dua kali proses pemasaran sayuran kangkung organik ini, dilakukan dengan pemberian harga jual yang berbeda-beda di tiap ons-nya. Pada pemasaran tahap pertama, diberi harga Rp. 3000,-/ons , dan pada pemasaran tahap kedua, diberi harga Rp. 3500,-/ons. Penentuan Harga berbeda terjadi karena jenis konsumen yang akan membeli produk tidaklah sama. Meskipun berbeda tetapi dengan mempertimbangkan perhitungan output yang ingin dicapai. Dimana tujuan dari usahatani ini adalah pemanfaatan sumberdaya seoptimal mungkin dengan keuntungan semaksimal mungkin.
4.3 Hasil Perhitungan Pendapatan
Hasil Panen dalam 10 polybag menghasilkan 550 gram kangkung darat. Dengan rincian yaitu:
-          Panen tahap 1 didapatkan 180 gram kangkung
-          Panen tahap 2 didapatkan 370 gram kangkung
Pada pemasaran kangkung tahap 1, dipasarkan dengan harga jual per 100 gram seharga Rp 3.000,00 dan didapatkan penerimaan hasil penjualan sebesar Rp 5.727,27 sedangkan  pada pemasaran kangkung tahap 2, dipasarkan dengan harga jual per 100 gram seharga Rp 3.500,00 dan didapatkan penerimaan hasil penjualan sebesar Rp 12.090,90. Sehingga didapatkan penerimaan total sebesar Rp 5.727,27 + Rp 12.090,90 = Rp 17.818,18
Kemudian pada rincian biaya yang dikeluarkan pada saat budidaya kangkung organik diantaranya:
  • Biaya tetap sewa lahan dan pengairan sebesar Rp 2.500 (rincian terlampir)
  • Biaya variabel total pengolahan lahan sebesar Rp 507,94 (rincian terlampir)
  • Biaya variabel total pemupukan dan penanaman sebesar Rp 2.451,88 (rincian terlampir)
  • Biaya variabel total pemeliharaan dan penyulaman sebesar Rp 1.007,80 (rincian terlampir)
  • Biaya variabel total panen dan pasca panen sebesar tahap 1 sebesar Rp 920,94 (rincian terlampir)
  • Biaya variabel total panen dan pasca panen sebesar tahap 2 sebesar Rp 207,31 (rincian terlampir)
  • Biaya variabel total pemasaran produk sebesar Rp 1.136,36 (rincian terlampir)
Sehingga didapatkan Total biaya = Rp 8.732,23
Perhitungan pendapatan usahatani bertanam kangkung secara organik yang diterima:
Keuntungan = TR (Total Revenue) - TC (Total Cost)
Π = TR – TC
 
 

Keterangan: 
-          Π = Keuntungan
-          TR = Penerimaan Total (Total Revenue)
-          TC = BiayaTotal (Total Cost)
Diketahui :
-          TR = Rp 5.727, 27 + Rp 12.090,90 = Rp 17.818,18
-          TC = Rp 8.732,23
jadi
     = TR (Total Revenue) - TC (Total Cost)
     = Rp 17.818,18– Rp 8.732,23
     = Rp 9.085,95
Jadi dalam berusahatani kangkung organik dalam 10 media tanam polybag didapatkan pendapatan atau keuntungan sebesar Rp 9.085,95
4.4 Hasil Perhitungan Kelayakan Usaha
a.  Atas dasar penjualan dalam unit :
FC       = Biaya tetap
P          = Harga jual per unit
VC      = Biaya variabel per unit
Analisis Break Event Point atas dasar penjualan dalam unit  tahap 1 dan 2 yaitu:
FC       = Rp 2.500,00 
P 1       = Rp 3.000,00
P 2       = Rp 3.500,00
VC      = Rp 6.232,23
Maka:
VC per gram =       

      = Rp 11,33
                           
 

                                                 
          = 0,84 gram                                       = 0,72 gram
Jadi untuk jumlah BEP per unit pada pemasaran kangkung organik tahap 1 sebesar 0.84 gram sedangkan untuk jumlah Bep per unit pada pemasaran kangkung organik tahap 2 sebesar 0,72 gram
b. Atas dasar penjualan dalam rupiah
FC       = Biaya tetap
VC      = Biaya variabel per unit
P          = Penjualan
Analisis Break Event Point atas dasar penjualan dalam unit  tahap 1 dan 2 yaitu:
FC       = Rp 2.500,00 
P 1       = Rp 3.000,00
P 2       = Rp 3.500,00
VC      = Rp 6.232,23
Maka:
                               
 

                                     

= Rp 2.500,70                                                      = Rp 2.500,53
Jadi untuk jumlah BEP dalam harga pada pemasaran kangkung organik tahap 1 sebesar Rp 2.500,70 sedangkan untuk jumlah BEP dalam harga pada pemasaran kangkung organik tahap 2 sebesar Rp 2.500,53
Pada hasil Perhitungan kelayakan usahatani budidaya kangkung organik didapatkan :
Total revenue              = Rp 17.818,18
Total Cost                   = Rp 8.732,23
R/C Ratio                    =  Rp 17.818,18/ Rp 8.732,23
=  Rp 2,04

BEP adalah jika R/C = 1, maka jika R/C > 1, usahatani budidaya kangkung organik ini layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan lagi karena peluang memperoleh keuntungan masih besar dan sudah melewati titik impas atau balik modal.
Catatan:Dalam praktikum usahatani untuk budidaya kangkung secara organik memperoleh R/C > 1, yaitu 2,04. Berarti kegiatan efisien dan memperoleh keuntungan serta balik modal.
4.5 Deskripsi Permasalahan
Dalam proses usahatani tentunya terdapat permasalahan selama proses pembudidayaannya mulai dari pengolahan tanah sampai pada pemasaran. Hal ini juga terjadi pada proses pelaksanaan dari budidaya kangkung secara organik ini berlangsung, beberapa kendala yang sering muncul adalah pemeliharaan tanaman, terutama pada jadwal penyiraman yang kadang ada yang tidak melaksanakan tugasnya. Kekurangan air ini dikarenakan pemeliharaan yang kurang maksimal sedangkan tanaman kangkung sendiri merupakan tanaman yang relatif membutuhkan penyiraman setiap hari yaitu pagi dan sore. Disamping itu yang menjadi peganggu pada tanaman kangkung yaitu gulma yang tingginya lebih tinggi daripada tanaman kangkung, disamping mengambil ketersediaan unsur hara, gulma juga dapat mengurangi intensitas penyinaran tanaman kangkung itu sendiri.
 kemudian unsur hara yang menyebabkan tanaman layu dan daun bawah menguning, karena pemupukan hanya dilakukan pada awal penanaman dan untuk pemberian selanjutnya tidak ada. Faktor lain yang menyebabkan penurunan kualitas produksi tanaman kangkung yakni serangan hama walaupun tidak secara besar-besaran. Hama yang menyerang biasanya dari golongan serangga.
Perencanaan awal dalam usahatani sayuran kangkung organik yang diusahakan sebanyak 30 benih yang ditanam dalam tiap 10 polybag yang tumbuh dan siap dipanen secara serempak, akan  tetapi dalam kenyataannya ± 90% yang tumbuh dan ± 10% yang tidak tumbuh. Maka perlu diadakan penyulaman, dimana bertujuan agar mengganti tanaman  kangkung yang tidak tumbuh tadi.
Untuk tahap pemasaran yang menjadi kendala adalah sulitnya mencari sasaran konsumen atau tempat penjualan disamping itu harus bersaing dengan pemasaran kangkung anorganik. Pada umumnya konsumen lebih menyukai kangkung yang dibudidayakan secara anorganik karena dari segi harga lebih murah.
4.6 Solusi
Pada sistem tahapan pemeliharaan pada budidaya kangkung secara organik terutama pada penyiraman tanaman haruslah secara teratur teknisnya, serta melihat kondisi cuaca yang ada. Karena pada dasarnya tanaman kangkung darat ini memebutuhkan penyiraman yang cukup untuk proses vegetatif tanaman. Penyiangan gulma juga harus dilakukan secara efektif, penanggulangannya dengan cara dicabut sampai akarnya agar meminimalkan potensi gulma yang terus berkembang di daerah tersebut, apalagi gulma yang ada pada tanaman kangkung lebih cepat pertumbuhannya, dan mengakibatkan terjadinya kompetisi baik cahaya maupun unsur hara.
Diantara hama yang ada, yang sering menyerang yaitu belalang. serangga ini merupakan hama pemakan dan sering memakan bagian tanaman yang muda di polybag atau setelah beberapa minggu di tanam. Untuk menanggulangi gangguan hama pada budidaya dan usahatani tanaman kangkung organik ini, perlu dilakukan pengendalian, yakni dengan cara manual dengan menangkap dan membuang hama yang menyerang daun tanaman kangkung organik tersebut.
Kemudian untuk nutrisi tanaman yang berkaitan dengan pemberian pupuk kompos dapat dilakukan 2 kali selama masa budidaya tanaman kangkung, jadi tidak hanya pada masa awal tanam benih kangkung pada polybag. Sehingga untuk masalah kekurangan unsur hara tanaman yang dibutuhkan terutama selama masa vegetatif tanaman dapat tercukupi dengan baik.
Pada pemasaran tanaman kangkung akan lebih baiknya terdapat tempat penjualan khusus yang melayani pembelian tanaman kangkung organik seperti toko organik yang memiliki brain image, sehingga pada pemasaran dapat terjual dengan cepat, dan bisa bersaing terhadap pemasaran kangkung anorganik.

 V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
Dari hasil praktikum usahatani bertanam kangkung secara organik dapat dijelaskan Dalam proses budidayanya terdapat 8 tahap, yakni dari mulai pengolahan lahan, pemupukan, penanaman, pemeliharaan, penyulaman, panen, pasca panen, dan pemasaran. Yang pada setiap masing-masing tahapan harus dipertimbangkan komponen - komponen biaya yang mendukung proses kegiatan tersebut.
Dalam Proses pemasaran yang dilakukan dalam usahatani sayuran kangkung organik dilakukan pemasaran melalui saluran distribusi ke warung atau tempat makan dan kios rumah tangga dengan cara produsen langsung ke konsumen dengan metode promosi Personal selling.
Perhitungan dalam usahatani budidaya sayuran kangkung organik ini, didapatkan total penerimaan sebesar Rp. 17.818,18 dan total biaya sebesar Rp 8.732,23 Sehingga dihasilkan R/C = 2,04 (RC > 1) yang berarti bahwa usahatani tersebut layak dan balik modal serta kecenderungan mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi.
5.2 Saran
1)      Untuk lahan yang digunakan budidaya tanaman organik harap disiapkan sebaik mungkin, karena banyak peralatan dan air yang kurang. Sehingga banyak kelompok yang lama mengantri dalam penyiraman.
2)      Untuk polybag harap diganti dengan kondisi yang lebih layak untuk kegiatan praktikum matakuliah Usahatani berikutnya






DAFTAR PUSTAKA

Fadholi, Hernanto.1989. Ilmu Usahatani. P.T Penebar Swadaya: Jakarta
Makehan,J.P, R.L Molcolm. 1990. Manajemen Usahatani Daerah Tropis.LP3ES: Bogor
Nuraeni, Ida dkk. Manajemen Usahatani. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka: Jakarta
Prawirokusumo,soeharto. 1990. ilmu usahatani. BPFE UGM:  Yogyakarta.
Shinta, Agustina. 2003. Manajemen Pemasaran. Universitas Brawijaya: Malang
Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Penerbit Universitas Indonesia: Jakarta
Soekartawi.1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Penerbit Universitas Indonesia : Jakarta
Sudarsono. 1995. Pengantar Ekonomi Mikro.PT Pustaka LP3ES Indonesia: Jakarta
Sugito, Yogi. 1995. Sistem Pertanian Organik. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya: Malang
Sukirno, Sadono. 2005. Mikro Ekonomi. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Tohir, Kaslan A. 1983. Seuntai Pengetahuan Tentang Usaha Tani Indonesia. PT. Bina Aksara: Jakarta
Winardi.1983.Teori Ekonomi Mikro. Tarsito : Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar